Kisah Iway, 11 tahun hidup di dalam bajaj merawat sang anak

Rabu, 28 September 2016 06:05 Reporter : Desi Aditia Ningrum

Merdeka.com - Teriknya matahari ibu kota pada Senin (26/9) tak menyurutkan semangat Riwahyudin menunggu penumpang bajaj di sekitar Stasiun Cikini, Jakarta Pusat. Sopir bajaj asal Betawi itu sudah sejak tahun 1994 menjadi angkutan umum beroda tiga tersebut. Namun, yang membuat Iway, begitu sapaan Riwahyudin beda dengan tukang bajaj lainnya dia hidup dengan anak laki-lakinya Muhamad Irwan (11) di dalam bajaj. Tidak ada rumah atau tempat tinggal lain selain bajaj. Bajaj merupakan tempat mencari nafkah sekaligus tempat tinggal mereka.

Saat ditemui di tempat mangkalnya, pria 54 tahun itu tengah berdiri mengenakan baju merah, celana pendek selutut dan helm merah menawarkan jasa bajajnya. Di dalam bajaj bangku depan terlihat putranya tertidur lelap masih menggunakan seragam SD. Anak itu pulas meski suara kendaraan serta percakapan orang terdengar bising. Tak pakai bantal, kepalanya hanya diganjal oleh kantung berisi pakaian. Kakinya ditekuk karena dalam bajaj tak cukup untuk berselonjor.

Nampak miris ketika anak seusianya tidur siang di kamar beralaskan kasur bantal, Irwan cuma tidur di dalam bajaj yang berukuran kurang dari dua meter.

Anak kelas satu SD itu tidur di jok depan. Rupanya Iway sengaja membuatkan tempat duduk memanjang dari triplek supaya muat berdua kala ada penumpang. Saban hari sepulang sekolah, Irwan ikut bersama Iway mengangkut penumpang keliling Jakarta. Dia selalu setia duduk di samping kanan sang bapak.

Di belakang jok penumpang ada sekitar empat kantong plastik besar berisi pakaian. Semuanya disimpan di bajaj tersebut tak terkecuali peralatan sekolah Irwan.

Meski terlihat lelah, Iway mengumbar senyum ramah bersedia menceritakan kisah hidupnya tinggal sekitar 11 tahun di dalam bajaj. Kata dia, awalnya kehidupannya tak semiris saat ini. Iway tinggal bersama kedua orangtuanya di kawasan Tanah Tinggi, Jakarta Pusat.

Tapi semua berubah setelah kedua orangtuanya meninggal. Rumah satu-satunya peninggalan orang tuanya menjadi rebutan Iway dan keempat saudaranya. Rumah tersebut akhirnya dijual dan Iway tidak mendapat apa-apa.

Iway kemudian berpikir menjadi sopir bajaj. Padahal sebelumnya dia pernah bekerja di perusahaan asuransi. "Karena waktu itu mungkin jiwa masih muda jadi pengen bebas terus keluar," kata Iway, saat ditemui merdeka.com di sekitar stasiun Cikini, Senin (26/9).

Irwan, anak sopir bajaj Riwahyudin ©2016 Merdeka.com/desi aditia ningrum


Dia berkisah pernah menikah dua kali. Dari istri yang pertama dikarunia dua orang anak yakni laki-laki dan perempuan. Namun pernikahan tak begitu lama dan kandas di tengah jalan lantaran sang istri pergi bersama laki-laki lain. Kedua anaknya turut dibawa sang istri.

Dari pengalaman itu, Iway berniat di dalam hati menginginkan perempuan yang menyayanginya sepenuh hati. Lalu, dia bertemu dengan perempuan yang juga biasa hidup di jalanan. Keduanya menikah dan menghasilkan anak laki-laki diberi nama Muhamad Irwan. Pagi, siang hingga malam, Iway sibuk menjadi sopir bajaj demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Sayangnya, sang istri malah tak puas dan mengeluh Iway terlalu sibuk. Kemudian perempuan tersebut pergi meninggalkan Iway dan Irwan yang kala itu berusia satu tahun.

Iway mengaku bukan tak mau melakukan kewajiban hubungan badan dengan istrinya, namun kondisi fisik yang lelah usai seharian menarik bajaj membuatnya butuh istirahat. Dia ikhlas ditinggalkan begitu saja oleh istrinya. Menurut dia, terakhir mendapat kabar bahwa ibu dari anaknya itu sudah meninggal.

Sejak ditinggal istrinya sekitar tahun 2007, kehidupan yang sangat memprihatinkan dia jalani. Dia sendirian merawat Irwan. Ke mana-mana Irwan selalu dibawa dalam bajaj yang kala itu masih berwarna oranye. Dalam hatinya, Iway bertekad mampu membesarkan anak itu dengan baik.

Ternyata merawat anak bayi tak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu perhatian khusus dan siaga 24 jam.

Iway sempat berhenti menjadi sopir bajaj dan berpikir menjadi pengamen. Menurut dia, menjadi pengamen akan memudahkannya menggendong dibanding menjadi sopir bajaj. Tapi akhirnya dia lebih memilih kembali menjadi tukang bajaj agar punya tempat tinggal.

Bocah Irwan dan ayahnya 11 tahun hidup di bajaj ©2016 Merdeka.com/Annisa Nurul Mauliddiyah

Bagi Iway tak mudah merawat anak di dalam bajaj. Panas, hujan, Iway lalui bersama anaknya di dalam bajaj. Iway mulai mencari penumpang sekitar pukul 05.00 WIB hingga larut malam.

Mereka kerap berhenti di mana saja ketika mata sudah mengantuk. Saking penghasilan dari bajaj tak cukup untuk membeli susu, saat bayi, Irwan hanya diberikan air putih dicampur gula. Hatinya menangis meratapi nasib. Tapi dia hanya bisa mengadu kepada Tuhan agar kesulitan itu cepat berakhir.

Iway mengaku hal tersulit ketika Irwan berusia sekitar lima tahun. Irwan tiba-tiba sakit, badannya panas, dan tak bersuara. Iway sempat menyerah dan pasrah. Dia bergegas membawa ke puskesmas terdekat.

"Jika Tuhan mau mengambilnya saya ikhlas," ucap Iway mengenang sambil berlinang air mata.

Pendapat-pendapat tak enak sering dia dengar dari teman sesama tukang bajaj. Mereka menyarankan agar Iway menitipkan Irwan ke panti asuhan. Iway dengan tegas menolak, dia merasa mampu mengurus anaknya meskipun hidup di jalanan. Menurut dia selama Tuhan masih memberikan umur, Iway tak akan pernah meninggalkan atau menitipkan Irwan.

Irwan merupakan belahan jiwanya. Dia rela menghabiskan sisa umurnya untuk terus menghidupi Irwan agar menjadi orang berguna. Iway tak peduli hari ini dan esok dirinya makan apa. Paling penting makan buat Irwan.

Penghasilan dari bajaj jauh dari cukup. Persaingan ketat, serta maraknya ojek online membuat sulit mendapat penumpang. Setiap hari setoran bajaj kepada pemilik Rp 120 ribu. Di luar itu, Iway mengharuskan mengantongi bersih buat dirinya minimal Rp 30 ribu sehari. Rp 30 ribu itu dikhususkan untuk Irwan.

"Rp 10 ribu buat sarapan pagi sebelum berangkat sekolah, Rp 10 ribu buat di sekolah segitu juga buat jaga-jaga kalau ada keperluan sekolah mesti dibeli. Rp 10 ribu lagi buat makan pulang sekolah," tutur Iway.

Terkadang, jika penumpang sepi dia terpaksa berutang kepada pemilik bajaj guna kebutuhan perut sang anak. Dia tak mau melihat anaknya kelaparan.

Walaupun terbilang terlambat memasukkan Irwan ke sekolah, namun Iway gigih menyekolahkan anaknya. Dia mengaku keterlambatan memasukkan Irwan ke sekolah lantaran terganjal administrasi. Kartu keluarga (KK), akta kelahiran surat RT RW, saat itu tak ada. Oleh karena itu, Iway mesti mengurus lagi dari awal.

Iway tak terlalu bercita-cita tinggi kelak anaknya menjadi orang sukses. Dia hanya ingin Irwan menjadi anak soleh supaya bisa mendoakannya ketika telah tiada. Menurut Iway, sampai saat ini Irwan tak pernah menanyakan keberadaan ibunya. Bocah itu hanya mengetahui Iway adalah ayah sekaligus ibunya.

Bocah Irwan dan ayahnya 11 tahun hidup di bajaj ©2016 Merdeka.com/Annisa Nurul Mauliddiyah

Iway pun bersyukur Irwan tak pernah mengeluh kondisi hidupnya. Dia malah bersemangat menjalani sekolah serta masa kanak-kanaknya. Kata Iway, suatu ketika Irwan pernah bercerita diejek teman sebagai anak gembel lantaran hidup di bajaj.

Dengan bijak dan bergurau Iway mencoba membesarkan hati Irwan, bahwa mereka orang paling beruntung bisa tidur di mana pun. Pengertian itu membuat Irwan percaya diri jika kehidupannya lebih berwarna dibanding teman-temannya.

Selama ini, tak pernah ada penumpang yang protes atau merasa terganggu Iway mengajak buah hatinya itu. Menurut dia, jika keberatan tidak masalah penumpang memilih bajaj lain untuk mengantar.

Iway selalu berharap suatu hari bisa memiliki tempat tinggal layak agar tak lagi tidur di dalam bajaj. [bal]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini